Rabu, 4 November 2026
Redaksi
Ekonomi

Neraca Perdagangan Indonesia 2025 Cetak Surplus Kumulatif US$41,05 Miliar, Tumbuh 31 Persen dari Tahun Lalu

Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus kumulatif sebesar 41,05 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025, tumbuh 31,03 persen dibandingkan tahun 2024. Sektor nonmigas menjadi penopang utama dengan komoditas unggulan CPO, batu bara, dan besi baja.

Crop anonymous man demonstrating small paper United States flag and folded twenty dollar banknote
IKLAN / ADVERTISEMENT
Slot Periklanan Nusantara24Jam (IN_ARTICLE)

JAKARTA, nusantara24jam.my.id — Kinerja perdagangan internasional Indonesia sepanjang tahun 2025 mencatatkan hasil yang sangat positif. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Kementerian Perdagangan, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus kumulatif sebesar 41,05 miliar dolar AS selama periode Januari hingga Desember 2025.

Capaian ini tumbuh signifikan sebesar 31,03 persen dibandingkan surplus neraca perdagangan tahun 2024 yang tercatat sebesar 31,33 miliar dolar AS, sekaligus memperpanjang tren surplus bulanan yang konsisten sepanjang tahun.

Kinerja Akhir Tahun

Pada bulan Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS, melanjutkan tren positif bulan November 2025 yang membukukan surplus 2,66 miliar dolar AS. Capaian ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor Indonesia tetap solid menutup tahun 2025.

Penopang Utama Surplus

Surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 terutama ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang kuat. Komoditas-komoditas unggulan yang menjadi andalan ekspor antara lain:

  • Lemak dan minyak hewani/nabati — termasuk minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya;
  • Bahan bakar mineral — termasuk batu bara yang permintaannya tetap tinggi di pasar Asia;
  • Produk besi dan baja — yang mencerminkan pertumbuhan industri manufaktur berbasis sumber daya alam.

Mitra Dagang Utama

Negara-negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia yang memberikan kontribusi terbesar terhadap surplus perdagangan adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Ketiganya secara konsisten menjadi mitra dagang strategis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Tantangan: Defisit Sektor Migas

Di balik capaian surplus keseluruhan, sektor migas (minyak dan gas bumi) masih mencatatkan defisit sepanjang 2025 akibat nilai impor migas yang lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor. Hal ini menjadi tantangan struktural yang perlu terus diperhatikan, mengingat kebutuhan energi dalam negeri yang terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi nasional.

Sinyal Positif bagi Perekonomian

Kinerja surplus neraca perdagangan yang kuat sepanjang 2025 memberikan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Surplus perdagangan berkontribusi pada penguatan posisi cadangan devisa, kestabilan nilai tukar Rupiah, serta mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.


Sumber: Badan Pusat Statistik (bps.go.id); Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (kemendag.go.id); Bank Indonesia (bi.go.id)

Klarifikasi & Hak Jawab Pembaca

Nusantara24Jam senantiasa mengedepankan akurasi fakta dan keberimbangan warta. Apabila pihak terkait hendak memberikan klarifikasi, koreksi data, atau hak jawab, silakan hubungi meja redaksi melalui surat elektronik resmi kami di [email protected].

N24
Redaksi Nusantara24Jam
Identitas kelembagaan terpadu Nusantara24Jam yang menyajikan warta informatif dan berimbang dari berbagai daerah di Indonesia.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar yang masuk dimoderasi demi kenyamanan bersama.